WILD WEST WAHABI

LUCUTI KEDOK SALAFI PENJAJAH HARAMAIN PEMBENCI AHLUL BAIT

Tasybih & Tajsim: Tauhidnya, Kejumudan: Syariatnya, Kekerasan & Kelicikan: Akhlaknya

Posted by administrator www pada Oktober 31, 2007

Oleh: Muchtar Luthfi

[Dengan judul telah diubah suai. Kitab2 hadits referensi dari tulisan “Peringatan Nabi saw Tentang Munculnya Wahabi” dapat juga ditemui pada rujukan tulisan ini. Terimakasih – Administrator] 

AKHIR-AKHIR INI, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut dan penyebar ajaran para Salaf Saleh. Mereka sering mengatasnamakan diri mereka sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf.  Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka. Mereka beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup ajaran Salaf Saleh.  DEFINISI SALAFI Jika dilihat dari sisi bahasa, Salaf berarti yang telah lalu.[2] Sedang dari sisi istilah, salaf diterapkan untuk para sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ tabi’in yang hidup di abad-abad permulaan kemunculan Islam.[3] Jadi, salafi adalah kelompok yang ‘mengaku’ sebagai pengikut pemuka agama yang hidup dimasa lalu dari kalangan para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Baik yang berkaitan dengan akidah, syariat dan prilaku keagamaan.[4] Bahkan sebagian menambahkan bahwa Salaf mencakup para Imam Mazhab, sehingga salafi adalah tergolong pengikut mereka dari sisi semua keyakinan keagamaannya.[5] Muhammad Abu Zuhrah menyatakan bahwa Salafi adalah kelompok yang muncul pada abad ke-empat hijriyah, yang mengikuti Imam Ahmad bin Hambal. Kemudian pada abad ketujuh hijriyah dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah.[6] Pada hakekatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi yang dapat kita temui di Tanah Air sekarang ini, mereka adalah golongan Wahabi yang telah diekspor oleh pamuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia. Dikarenakan istilah Wahabi begitu berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi, terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi.

Kesan negatif dari sebutan Wahabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud -yang membonceng seorang rohaniawan menyimpang bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi- atas semua kabilah di jazirah Arab atas dukungan kolonialisme Inggris. Akhirnya keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut. Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyak bumi. Sedang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara tadi yang tidak bisa diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain diluar wilayah Saudi.[7] 

Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf, salah satu ulama Ahlusunnah yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim, dalam salah satu karyanya yang berjudul “as-Salafiyah al-Wahabiyah” menyatakan: “Tidak ada perbedaan antara salafiyah dan wahabiyah. Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Mereka (kaum salafi dan wahabi) satu dari sisi keyakinan dan pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan al-Wahhabiyah al-Hambaliyah. Namun, sewaktu diekspor keluar (Saudi), mereka mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy”. Sayyid as-Saqqaf menambahkan: “Maka kelompok salafi adalah kelompok yang mengikuti Ibnu Taimiyah dan mengikuti ulama mazhab Hambali. Mereka semua telah menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai imam, tempat rujukan (marja’), dan ketua. Ia (Ibnu Taimiyah) tergolong ulama mazhab Hambali. Sewaktu mazhab ini berada di luar Jazirah Arab, maka tidak disebut dengan Wahabi, karena sebutan itu terkesan celaan”. Dalam menyinggung masalah para pemuka kelompok itu, kembali Sayyid as-Saqqaf mengatakan: “Pada hakekatnya, Wahabiyah terlahir dari Salafiyah. Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang yang menyeru untuk mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah dan para pendahulunya dari mazhab Hambali, yang mereka kemudian mengaku sebagai kelompok Salafiyah”.

Dalam menjelaskan secara global tentang ajaran dan keyakinan mereka, as-Saqqaf mengatakan: “Al-Wahabiyah atau as-Salafiyah adalah pengikut mazhab Hambali, walaupun dari beberapa hal pendapat mereka tidak sesuai lagi (dan bahkan bertentangan) dengan pendapat mazhab Hambali sendiri. Mereka sesuai (dengan mazhab Hambali) dari sisi keyakinan tentang at-Tasybih (Menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Tajsim (Allah berbentuk mirip manusia), dan an-Nashb yaitu membenci keluarga Rasul saw (Ahlul-Bait) dan tiada menghormati mereka”.[8] Jadi, menurut as-Saqqaf, kelompok yang mengaku Salafi adalah kelompok Wahabi yang memiliki sifat Nashibi (pembenci keluarga Nabi saw), mengikuti pelopornya, Ibnu Taimiyah.  

PELOPOR PEMIKIRAN “KEMBALI KE METODE AJARAN SALAF” 

Ahmad bin Hambal adalah sosok pemuka hadis yang memiliki karya terkenal, yaitu kitab “Musnad”. Selain sebagai pendiri mazhab Hambali, ia juga sebagai pribadi yang menggalakkan ajaran kembali kepada pemikiran Salaf Saleh. Secara umum, metode yang dipakai oleh Ahmad bin Hambal dalam pemikiran akidah dan hukum fikih, adalah menggunakan metode tekstual. Oleh karenanya, ia sangat keras sekali dalam menentang keikutsertaan dan penggunaan akal dalam memahami ajaran agama. Ia beranggapan, kemunculan pemikiran logika, filsafat, ilmu kalam (teologi) dan ajaran-ajaran lain –yang dianggap ajaran diluar Islam yang kemudian diadopsi oleh sebagian muslim- akan membahayakan nasib teks-teks agama.  Dari situ akhirnya ia menyerukan untuk berpegang teguh terhadap teks, dan mengingkari secara total penggunaan akal dalam memahami agama, termasuk proses takwil rasional terhadap teks. Ia beranggapan, bahwa metode itulah yang dipakai Salaf Saleh dalam memahami agama, dan metode tersebut tidak bisa diganggu gugat kebenaran dan legalitasnya.

Syahrastani yang bermazhab ‘Asyariyah dalam kitab “al-Milal wa an-Nihal” sewaktu menukil ungkapan Ahmad bin Hambal yang menyatakan: “Kita telah meriwayatkan (hadis) sebagaimana adanya, dan hal (sebagaimana adanya) itu pula yang kita yakini”.[9] Konsekwensi dari ungkapan Ahmad bin Hambal di atas itulah, akhirnya ia beserta banyak pengikutnya –termasuk Ibnu Taimiyah- terjerumus kedalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama. Salah satu dampak konkrit dari metode di atas tadi adalah, keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan, lebih lagi kelompok Salafi kontemporer, pendukung ajaran Ibnu Taimiyah al-Harrani yang kemudian tampuk kepemimpinannya dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi.  

Suatu saat, datang seseorang kepada Ahmad bin Hambal. Lantas, ia bertanya tentang beberapa hadis. Hingga akhirnya, pertanyaan sampai pada hadis-hadis semisal: “Tuhan pada setiap malam turun ke langit Dunia”, “Tuhan bisa dilihat”, “Tuhan meletakkan kaki-Nya kedalam Neraka” dan hadis-hadis semisalnya. Lantas ia (Ahmad bin Hambal) menjawab: “Kita meyakini semua hadis-hadis tersebut. Kita membenarkan semua hadis tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan”.[10] Jelas metode semacam ini tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, betapa al-Quran dalam ayat-ayatnya sangat menekankan penggunaan akal dan pikiran dalam bertindak.[11] Begitu juga hadis-hadis Nabi saw. Selain itu, pengingkaran secara mutlak campur tangan akal dan pikiran manusia dalam memahami ajaran agama akan mengakibatkan kesesatan dan bertentangan dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri.

Dapat kita contohkan secara singkat penyimpangan yang terjadi akibat penerapan konsep tadi. Jika terdapat ayat semisal “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy”,[12] atau seperti hadis yang menyatakan “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada setiap malam”[13], lantas, disisi lain kita tidak boleh menggunakan akal dalam memahaminya, bahkan cukup menerima teks sebagaimana adanya, maka kita akan terbentur dengan ayat lain dalam al-Quran seperti ayat “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.[14] Apakah ayat dari surat Thoha tadi berartikan bahwa Allah bertengger di atas singgasana Arsy sebagaimana Ibnu Taimiyah duduk di atas mimbar, atau turun ke langit dunia sebagaimana Ibnu Taimiyah turun dari atas mimbarnya, yang itu semua berarti bertentangan dengan ayat dari surat as-Syuura di atas. Jadi akan terjadi kontradiksi dalam memahami hakekat ajaran agama Islam. Mungkinkah Islam sebagai agama paripurna akan terdapat kontradiksi? Semua kaum muslimin pasti akan menjawabnya dengan negatif, apalagi berkaitan dengan al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam. Melihat kelemahan metode dasar yang ditawarkan oleh Ahmad bin Hambal semacam ini, meniscayakan adanya pengeroposan ajaran-ajaran yang bertumpu pada metode tadi. Dalam masalah ini, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Berbagai individu dari Salaf telah menetapkan sifat azali Tuhan, semisal; sifat Ilmu, Kemampuan (Qudrat)…dan mereka tidak membedakan antara sifat Dzati dan Fi’li. Sebagaimana mereka juga telah menetapkan sifat khabariyah buat Tuhan, seperti; dua tangan dan wajah Tuhan. Mereka tidak bersedia mentakwilnya, dan mengatakan: itu semua adalah sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks agama. Semua itu kita sebut sebagai sifat khabariyah”.

Dalam kelanjutan dari penjelasan mengenai kelompok Salafi tadi, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Para kelompok Salafi kontemporer meyakini lebih dari para kelompok Salaf itu sendiri. Mereka menyatakan, sifat-sifat khabari bukan hanya tidak boleh ditakwil, namun harus dimaknai secara zahir. Oleh karenanya, dari sisi ini, mereka telah terjerumus kedalam murni keyakinan tasybih. Tentu, permasalahan semacam ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para salaf itu sendiri”.[15]

Jadi sesuai dengan ungkapan Syahrastani, bahwa mayoritas para pengikut kelompok Salafi kontemporer telah menyimpang dari keyakinan para Salaf itu sendiri. Itu jika kita telaah secara global tentang konsep memahami teks. Akibatnya, mereka akan terjerumus kepada kesalahan fatal dalam mengenal Tuhan, juga dalam permasalahn-permasalahan lainnya. Padahal, masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lain yang jelas-jelas para Salaf meyakininya, sedang pengaku pengikut salaf kontemporer (salafi) justru mengharamkan dengan alasan syirik, bidah, ataupun khurafat. Perlu ada tulisan tersendiri tentang hal-hal tadi, dengan disertai kritisi pendapat dan argumentasi para pendukung kelompok Wahabisme.[16] Itulah yang menjadi alasan bahwa para pengikut Salafi (kontemporer) itu sudah banyak menyimpang dari ajaran para Salaf itu sendiri, termasuk sebagian ajaran imam Ahmad bin Hambal sendiri.[17] 

FAKTOR MUNCULNYA KELOMPOK SALAFI 

Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hambal dapat diperhatikan dari kekacauan zaman saat itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah yang meyakini keturutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrim dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang disisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hambal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hambal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.  

Syeikh Abdul Aziz ‘Izzuddin as-Sirwani dalam menjelaskan faktor kemunculan pemikiran kembali kepada metode Salaf, mengatakan: “Dikatakan bahwa penyebab utama untuk memegang erat metode itu –yang sangat nampak pada pribadi Ahmad bin Hambal- adalah dikarenakan pada zamannya banyak sekali dijumpai fitnah-fitnah, pertikaian dan perdebatan teologis. Dari sisi lain, berbagai pemikiran aneh, keyakinan-keyakinan yang bermacam-macam dan beraneka ragam budaya mulai bermunculan. Bagaimana mungkin semua itu bisa muncul di khasanah kelimuan Islam. Oleh karenanya, untuk menyelamatkan keyakinan-keyakinan Islam, maka ia menggunakan metode kembali kepemikiran Salaf”.[18] Hal semacam itu pula yang dinyatakan oleh as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal. 

Fenomena semacam ini juga bisa kita perhatikan dalam sejarah hidup Abu Hasan al-Asy’ari pendiri mazhab al-Asyariyah. Setelah ia mengumumkan diri keluar dari ajaran Muktazilah yang selama ini ia dapati dari ayah angkatnya, Abu Ali al-Juba’i seorang tokoh Muktazilah dizamannya. Al-Asy’ari dalam karyanya yang berjudul “al-Ibanah” dengan sangat jelas menggunakan metode mirip yang digunakan oleh Ahmad bin Hambal. Namun karena ia melihat bahwa metode semacam itu terlampau lemah, maka ia agak sedikit berganti haluan dengan mengakui otoritas akal dalam memahami ajaran agama, walau dengan batasan yang sangat sempit. Oleh karenanya, dalam karya lain yang diberi judul “al-Luma’ ” nampak sekali betapa ia masih mengakui campur tangan dan keturutsertaan akal dalam memahami ajaran agama, berbeda dengan metode Ahmad bin Hambal yang menolak total keikutsertaan akal dalam masalah itu. Dikarenakan al-Asy’ari hidup di pusat kebudayaan Islam kala itu, yaitu kota Baghdad, maka sebutan Ahlusunnah pun akhirnya didentikkan dengan mazhabnya. Sedang mazhab Thohawiyah dan Maturidiyah yang kemunculannya hampir bersamaan dengan mazhab Asyariyah dan memiliki kemiripan dengannya, menjadi kalah pamor dimata mayoritas kaum muslimin, apalagi ajaran Ahmad bin Hambal sudah tidak lagi dilirik oleh kebanyakan kaum muslimin. Lebih-lebih pada masa kejayaan Ahlusunnah, kemunculan kelompok Salafi kontemporer yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah yang sebagai sempalan dari mazhab imam Ahmad bin Hambal, pun tidak luput dari ketidaksimpatian kelompok mayoritas Ahlusunnah. Ditambah lagi dengan penyimpangan terhadap akidah Salaf yang dilakukan Salafi kontemporer (pengikut Ibnu Taimiyah) -yang dikomandoi oleh Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi- serta tindakan arogansi yang dilancarkan para pengikut Salafi tersebut terhadap kalompok lain yang dianggap tidak sependapat dengan pemikiran mereka.  

KECURANGAN KELOMPOK SALAFI 

Setiap golongan bukan hanya berusaha untuk selalu mempertahankan kelangsungan golongannya, namun mereka juga berusaha untuk menyebarkan ajarannya. Itu merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, tingkat kewajarannya bukan hanya bisa dinilai dari sisi itu saja, namun juga harus dilihat dari cara dan sarana yang dipakai untuk mempertahankan kelangsungan dan penyebaran ajaran golongan itu. Dari sisi ini, kelompok Salafi banyak melakukan kecurangan-kecurangan yang belum banyak diketahui oleh kelompok muslim lainnya. Selain kelompok Ahlusunnah biasa, kelompok Ahli Tasawwuf dari kalangan Ahlusunnah dan kelompok Syiah (di luar Ahlusunnah) merupakan kelompok-kelompok di luar Wahabi (Salafi) yang sangat gencar diserang oleh kelompok Salafi. Kelompok Salafi tidak segan-segan melakukan hal-hal yang tidak ‘gentle’ dalam menghadapi kelompok-kelompok selain Salafi, terkhusus Syiah. Menuduh kelompok lain dari saudara-saudaranya sesama muslim sebagai ahli bid’ah, ahli khurafat, musyrik adalah kebiasaan buruk kaum Salafi, walaupun kelompok tadi tergolong Ahlusunnah. Disisi lain, mereka sendiri terus berusaha untuk disebut dan masuk kategori kelompok Ahlusunnah. Berangkat dari sini, kaum Salafi selalu mempropagandakan bahwa Syiah adalah satu kelompok yang keluar dari Islam, dan sangat berbeda dengan pengikut Ahlusunnah. Mereka benci dengan usaha-usaha pendekatan dan persatuan Sunni-Syiah, apalagi melalui forum dialog ilmiah. Mereka berpikir bahwa dengan mengkafirkan kelompok Syiah, maka mereka akan dengan mudah duduk bersama dengan kelompok Ahlusunnah. Padahal realitanya tidaklah semacam itu. Karena mereka selalu menuduh kelompok Ahlusunnah sebagai pelaku Bid’ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik. Mereka berpikir, sewaktu seorang pengikut Ahlusunnah melakukan ziarah kubur, tahlil, membaca shalawat dan pujian terhadap Nabi, istighotsah, bertawassul dan mengambil berkah (tabarruk) berarti ia telah masuk kategori pelaku syirik atau ahli bid’ah yang telah jelas konsekwensi hukumnya dalam ajaran Islam. 

Singkat kata, kebencian itu bukan hanya dilancarkan kepada Ahlusunnah, namun terlebih pada kelompok Syiah. Kebencian kaum Salafi terhadap Syiah, bahkan dilakukan dengan cara-cara tidak ilmiah bahkan cenderung arogan dan premanisme, sebagaimana yang dilakukannya di beberapa tempat. Mereka tahu bahwa kelompok Syiah sangat produktif dalam penerbitan buku-buku, terkhusus buku-buku agama. Karya-karya ulama Syiah mampu mengikuti perkembangan zaman dan dapat memberi masukan dalam menyelesaikan problem intelektual yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Ulama Syiah mampu mengikuti wacana yang sedang berkembang, plus cara penyampaiannya pun dilakukan dengan cara ilmiah. Hal itulah yang menyebabkan kecemburuan kelompok Salafi terhadap Syiah kian menjadi. Akhirnya, sebagai contoh perbuatan licik yang mereka lakukan, sewaktu diadakan pameran Internasional Book-Fair di Mesir, dimana kelompok Syiah pun turut memeriahkan dengan membuka beberapa stand di pameran tersebut, melihat hal itu, kelompok Salafi (Wahabi) memborong semua kitab-kitab Syiah di stand-stand yang ada, yang kemudian membakar semua kitab yang dibelinya.[19]  Jika mereka berani bersaing dengan kelompok Syiah dari sisi keilmiahan, kenapa mereka melakukan hal itu? Perlakuan mereka semacam itu sebagai salah satu bukti kuat, bahwa mereka tidak terlalu memiliki basis ilmiah yang cukup mumpuni sehingga untuk menghadapi Syiah, mereka tidak memiliki jalan lain kecuali harus menggunakan cara-cara emosional yang terkadang cenderung arogan itu. Cara itu juga yang mereka lakukan terhadap para pengikut tasawuf dan tarekat yang banyak ditemui dalam tubuh Ahlusunnah sendiri, khususnya di Indonesia 

Segala bentuk makar dan kebohongan untuk mengahadapi rival akidahnya merupakan hal mubah dimata pengikut Salafi (Wahabi), karena kelompok Salafi masih terus beranggapan bahwa selain kelompoknya masih dapat dikategorikan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Perlakuan mereka terhadap kaum muslimin pada musim haji merupakan bukti yang tidak dapat diingkari. Yang lebih parah dari itu, para pendukung kelompok Salafi –yang didukung dana begitu besar- berani melakukan perubahan pada kitab-kitab standar Ahlusunnah, demi untuk menguatkan ajaran mereka, yang dengan jelas tidak memiliki akar sejarah dan argumentasi (tekstual dan rasional) yang kuat. Dengan melobi para pemilik percetakan buku-buku klasik agama yang menjadi standar ajaran –termasuk kitab-kitab hadis dan tafsir- mereka berani mengeluarkan dana yang sangat besar untuk merubah beberapa teks (hadis ataupun ungkapan para ulama) yang dianggap merugikan kelompok mereka. Kita ambil contoh apa yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Nuri ad-Dirtsawi, beliau mengatakan: “Merubah dan menghapus hadis-hadis merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah merubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus. Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsir beliau menjadi contoh buat kitab-kitab tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah al-Hambali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan tersebut, baru mereka mencetaknya kembali. Kitab Syarah Shohih Muslim pun (telah dirubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), kemudian baru mereka mencetaknya kembali”.[20] 

Namun sayang, banyak saudara-saudara dari Ahlusunnah lalai dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Perubahan-perubahan semacam itu, terkhusus mereka lakukan pada hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan keluarga (Ahlul-Bait) Nabi. Padahal, salah satu sisi kesamaan antara Sunni-Syiah adalah pemberian penghormatan khusus terhadap keluarga Nabi. Dari sinilah akhirnya pribadi seperti sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf menyatakan bahwa mereka tergolong kelompok Nashibi (pembenci keluarga Rasul). Dalam kitab tafsir Jami’ al-Bayan, sewaktu menafsirkan ayat 214 dari surat as-Syu’ara: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat-mu yang terdekat”, disitu, Rasulullah mengeluarkan pernyataan berupa satu hadis yang berkaitan dengan permulaan dakwah. Dalam hadis yang tercantum dalam kitab tafsir tersebut disebutkan, Rasul bersabda: “Siapakah diantara kalian yang mau menjadi wazir dan membantuku dalam perkara ini -risalah- maka akan menjadi saudaraku…(kadza…wa…kadza)…”. Padahal, jika kita membuka apa yang tercantum dalam tarikh at-Thabari kata “kadza wa kadza” (yang dalam penulisan buku berbahasa Indonesia, biasa digunakan titik-titik) sebagai ganti dari sabda Rasul yang berbunyi; “Washi (pengganti) dan Khalifah-ku”. Begitu pula hadis-hadis semisal, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya” yang dulu tercantum dalam kitab Jaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar yang beliau nukil dari Shohih at-Turmudzi, kini telah mereka hapus.

Melakukan peringkasan kitab-kitab standard, juga sebagai salah satu trik mereka untuk tujuan yang sama. Dan masih banyak usaha-usaha licik lain yang mereka lancarkan, demi mempertahankan ajaran mereka, terkhusus ajaran kebencian terhadap keluarga Nabi. Sementara sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin, bahwa mencintai keluarga Nabi adalah suatu kewajiban, sebagaimana Syair yang pernah dibawakan oleh imam Syafi’i:

“Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rafidhi”.[21] 

SALAFI (WAHABI) DAN KHAWARIJ 

Tidak berlebihan kiranya jika sebagian orang beranggapan bahwa kaum Wahabi (Salafi) memiliki banyak kemiripan dengan kelompok Khawarij. Melihat, dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan kelompok Khawarij di masa sekarang ini.

Disini, secara singkat bisa disebutkan beberapa sisi kesamaan antara kelompok Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela melalui lisan suci Rasulullah saw, dimana Rasul memberi julukan golongan sesat itu (Khawarij) dengan sebutan “mariqiin”, yang berarti ‘lepas’ dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.[22]  

Paling tidak ada enam kesamaan antara dua golongan ini yang bisa disebutkan:

Pertama, sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran, walaupun dalam beberapa hal memiliki kesamaan dari konsekwensi hukumnya. Abdullah bin Umar dalam mensifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[23] Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (muthowi’) menuduh para jamaah haji sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah mereka. 

Kedua, sebagaimana kelompok Khawarij disifati sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan”,[24] maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji semacam itu. Sebagaimana yang pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan dibeberapa tempat, terkhusus diwilayah Hijaz dan Iraq kala itu. 

Ketiga, sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin, seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama. 

Keempat, seperti kelompok Khawarij memiliki jiwa jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit ruang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama. 

Kelima, kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama. Oleh karenanya, ada satu hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi. Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan Bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas temggorokan. Mereka telah keluar dari agama (Islam), sebagaimana terkeluarnya (lepas) anak panah dari busurnya. Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala”.[25] Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd.[26] Sedang dalam satu hadis disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai goncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah”.[27] Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Disana akan muncul qorn setan”. Dalam kamus bahasa Arab, kata qorn berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan.[28] Sedang kita tahu, kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabi. Kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme, dan dari situlah pemikiran Wahabisme disebarluaskan kesegala penjuru dunia. Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana atau gamis hingga betis, mencukur rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu syiar dan tanda pengikut kelompok ini. 

Keenam, sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan dosa besar, maka dapat dikategorikan “negara zona perang” (Daar al-Harb), kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal tersebut. Sekarang ini dapat dilihat, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi –seperti al-Qaedah- melakukan aksi teror diberbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga sebagai korbannya. 

Tulisan ringkas ini mencoba untuk mengetahui tentang apa dan siapa kelompok Salafi (Wahabi). Semoga dengan pengenalan ringkas ini akan menjadi kejelasan akan kelompok yang disebut-sebut sebagai Salafi ini, yang mengaku penghidup kembali ajaran Salaf Saleh. Sehingga kita bisa lebih berhati-hati dan mawas diri terhadap aliran sesat dan menyesatkan yang telah menyimpang dari Islam Muhammadi tersebut.  

[Penulis: Adalah mahasiswa pasca sarjana Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomaini Qom, Republik Islam Iran.]  

Rujukan:

[2] Lisan al-Arab Jil:6 Hal:330

[3] As-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Hal:9, karya Dr. M Said Ramadhan Buthi

[4] As-Shohwat al-Islamiyah Hal:25, karya al-Qordhowi

[5] Al-Aqoid as-Salafiyah Hal: 11, karya Ahmad bin Hajar Aali Abu Thomi

[6] Al-Madzahib al-Islamiyah Hal:331, karya Muhammad Abu Zuhrah

[7] Untuk lebih jelasnya, dapat ditelaah lebih lanjut kitab tebal karya penulis Arab al-Ustadz Nasir as-Sa’id tentang sejarah kerajaan Arab Saudi yang diberi judul “Tarikh aali Sa’ud”. Karya ini berulang kali dicetak. Disitu dijelaskan secara detail sejarah kemunculan keluarga Saud di Jazirah Arab hingga zaman kekuasaan raja Fahd. Dalam karya tersebut, as-Said menetapkan bahwa keluarga Saud (pendiri) kerajaan Arab Saudi masih memiliki hubungan darah dan emosional dengan Yahudi Arab.

[8] Selengkapnya silahkan lihat: As-Salafiyah al-Wahabiyah, karya Hasan bin Ali as-Saqqaf, cet: Daar al-Imam an-Nawawi, Amman-Yordania

[9] Al-Milal wa an-Nihal Jil:1 Hal:165, karya as-Syahrastani

[10] Fi ‘Aqo’id al-Islam Hal:155, karya Muhammad bin Abdul Wahab (dalam kumpulan risalah-nya)

[11] Ayat-ayat al-Quran yang bebunyi “afalaa ta’qiluun” (Apakah kalian tidak memakai akal) atau “Afalaa tatafakkarun” (Apakah kalian tidak berpikir) dan semisalnya akan sangat mudah kita dapati dalam al-Quran. Ini semua salah satu bukti konkrit bahwa al-Quran sangat menekankan penggunaan akal dan mengakui keturutsertaan akal dalam memahami kebenaran ajaran agama.

[12] Q S Thoha:5

[13] Al-Washiyah al-Kubra Hal:31 atau Naqdhu al-Mantiq Hal:119 karya Ibnu Taimiyah

[14] Q S as-Syura:11

[15] Al-Milal wa an-Nihal Jil:1 Hal:84

[16] Banyak hal yang terbukti dengan argumen teks yang mencakup ayat, riwayat, ungkapan dan sirah para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in diperbolehkan, namun paea kelompok Salafi (Wahabi) mengharamkannya, seperti masalah; membangun dan memberi cahaya lampu pada kuburan, berdoa disamping makam para kekasih Ilahi (waliyullah), mengambil berkah dari makam kekasih Allah, menyeru atau meminta pertolongan dan syafaat dari para kekasih Allah pasca kematian mereka, bernazar atau sumpah atas nama para kekasih Allah, memperingati dan mengenang kelahiran atau kematian para kekasih Allah, bertawassul, dan melaksanakan tahlil (majlis fatehah)…semua merupakan hal yang diharamkan oleh para kelompok Salafi, padahal banyak ayat dan riwayat, juga prilaku para Salaf yang menunjukkan akan diperbolehkannya hal-hal tadi.

[17] Salah satu bentuk penyimpangan kelompok Wahabi terhadap ajaran imam Ahmad bin Hambal adalah pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap berbagai hadis berkaitan dengan keutamaan keluarga Rasul, yang Imam Ahmad sendiri meyakini keutamaan mereka dengan mencantumkannya dalam kitab musnadnya. Dari situ akhirnya Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari hadis-hadis tersebut, bahkan melakukan pelecehan terhadap keluarga Rasul, terkhusus Ali bin Abi Thalib. (lihat: Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:329) Dan terbukti, kekhilafahan Ali sempat “diragukan” oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Minhaj as-Sunnah” (lihat: Jil:4 Hal:682), dan ia termasuk orang yang menyebarluaskan keraguan itu. Padahal, semua kelompok Ahlusunnah “meyakini” akan kekhilafahan Ali. Lantas, masihkah layak Ibnu Taimiyah beserta pengikutnya mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah?

[18] al-Aqidah li al-Imam Ahmad bin Hambal Hal:38

[19] As-Salafiyah baina Ahlusunnah wa al-Imamiyah Hal:680

[20] Rudud ‘ala Syubahaat as-Salafiyah Hal:249

[21] Diwan as-Syafi’i Hal:55

[22] Musnad Ahmad Jil:2 Hal:118

[23] Sohih Bukhari Jil:4 Hal:197

[24] Majmu’ al-Fatawa Jil:13 Hal:32, karya Ibnu Taimiyah

[25] Shahih Bukhari, kitab at-Tauhid Bab:57 Hadis ke-7123

[26] Irsyad as-Saari Jil:15 Hal:626

[27] Musnad Ahmad Jil:2 Hal:81 atau Jil:4 Hal:5

[28] Al-Qomuus Jil:3 Hal:382 kata: Qo-ro-na   

28 Tanggapan to “Tasybih & Tajsim: Tauhidnya, Kejumudan: Syariatnya, Kekerasan & Kelicikan: Akhlaknya”

  1. Aswaja said

    Salam wr wb

    Met kenal…….

  2. Abu yusuf said

    ya Akhi jika antum belum mengenal salafi silahkan baca majalah As-Sunnah Mengenal lebih dekat salafiyah, jangan bicara nglantur tanpa ilmu yang banyak menimbulkan subhat dan fitnah, semakin antum bicara semakin terlihat corat marutnya manhaj yang antum tempuh, dalam hal ini ana akan mengomentari pemahaman penulis mengenai nama dan sifat Alloh sampai – sampai penulis mencomooh seorang ulama besar yang diakui keilmuaannya oleh Umat Islam seperti Imam Ahmad bin Hambal Rahimmulloh dan Syaiku Islam Ibnu Taimiyah Rahimmulloh yang bahkan sampai – sampai Kelompok Sufiyah sendiri (yang sering dibantah dalam karya -karya beliu ) mengakui sebagi salah satu ulamanya karena keluasan ilmunya ( baca tabloid Nurani Bulan ….tahun 2007),

    Subhat
    penulis menganggap memahami sfat dan nama Alloh sebagaimana yang dipahami oleh Imam Akhmad bin Hambal dan Syaiku Islam Ibnu Taimiyah Rahimmulloh yaitu membenarkan semua hadis tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan dianggap tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah karena dianggap mempunyai pemahaman tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan tidak menggunakan akal dan pikiran untuk memahami ayat – ayat maupun hadits- hadits mengenai sifat Alloh dan bahkan penulis membenturkannya dengan Q S as-Syura:11 (Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”)

    Jawab
    Justru dalil itu (Q S as-Syura:11, Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”) menjadi hujah sebaliknya bagi penulis jika Alloh mengatakan bahwa Dia tidak serupa dengan makhluknya kenapa penulis serupakan antara bersemayamnya Alloh di atas arsy dengan bersemayamnya makhluk, turunya Alloh dengan turunnya Makhluk, tangannya Alloh dengan tangannya Alloh.
    contoh konkritnya Babi punya mulut anda punya mulut apakah mulut anda sama dengan mulut babi, kera punya pantat anda punya pantat apakah panta anda sama dengan pantat kera, kuda Nil punya gigi apakah gigi anda sama, kenapa anda tidak menggunakan akal anda untuk memahami.

    Jika dikabarkan Alloh dan Rosulnya kepada kita bahwa Alloh mempunyai tangan, mempunyai kaki kenapa sebagai orang yang beriman kita tidak membenarkannya mengapa menolaknya bukankah ciri orang beriman ketika diperintahkan oleh Alloh dan Rosulnya berkata “Kami mendengar dan kami mentaatinya.”

    Jika kita disuruh mengimani bahwa Alloh punya kaki dan tangan kenapa tidak kita imani dan bukankah kita juga diperintahkan untuk tidak menyerupakan Alloh dengan Makhluknya maka kita mengimanai bahwa Alloh punya tangan dan kaki serta tangan dan kaki Alloh tidak sama dengan tangan Makhluk kenapa memahami sperti ini saja anda susah bagaimana dengan yang lainnya.

    Semoga Alloh memberikan petunjuk dan hidayah kepada antum untuk kembali ke jalan yang benar jangan sampai anda masuk kedalam ancaman / Peringatan dari Rosullulloh akan datang suatu jaman dimana seorang munafik membantah dengan Al Qur’an.

  3. fajar said

    wahai umat muslim suni-shiah bersatulah kalian bila tidak akan diterkam “srigala imperialist barat” dan jangan sekali kali dengan mudah mengkafirkan sesama muslim dan menyatakan dirinya paling benar( yg merupakan watak kaum wahabi)padahal engkau belum tentu benar

  4. Quito Riantori said

    @ Muchtar Luthfi
    Tulisan yang bagus dan ilmiyah. Kalo ada org yang gak paham tulisan ini jelas kebangetan banget guoblognya.
    Boleh saya copy paste tulisan ini ke blog saya? Terima kasih n salam

  5. administrator www said

    Assalamu’alaikum wr wb

    Terimakasih atas apresiasinya. Silahkan di copy paste ke blog antum.

    wass
    Administrator

  6. Mohon informasinya (kalau ada) tentang kelangsungan silsilah Mua’wiyah…dan apakah saat ini masih ada dan punya posisi penting apa aja..? Selain itu kuburan Mua’wiyah tsb di mana..?

  7. elmughny said

    Assalamu’alaykum..
    Tulisan yang bagus.. sama kayak ust quito. boleh ane copy di blog ane..
    Syukron…
    Wassalam

  8. administrator www said

    Wa’alaikumsalam

    Silahkan sdr Elmughny mengcopy di blog antum. Terimakasih atas apresiasinya.

    wassalam
    administrator

  9. M.J.Thamrin said

    Ass Wr. Wb
    Bagus nih Artikelnya, boleh di copy di blog ya ?
    Wass

  10. tulisan yang bagus…. khusus buat abu yusuf. Akal dan hati anda pasti bisa membedakan mana pemahaman yang benar. lihat sepak terjang kelompok anda sebagai wahabi..yang sungguh sempit hingga membuatku sesak nafas. Anda bodoh sekali jika bayangkan gigi kuda nil tidak sama dengan gigi anda. bentuk dan ukurannya beda tapi wujud dan esensinya sama yaitu gigi untuk menggigit. kamu pikir Tuhan kalo marah nggigit raimu. Sadarlah sobat, pahami agama anda lebih jernih dan sehat! gunakan juga akal, jangan terus menerus mempertahankan kebodohanmu. afalaa tatafakkaruun.
    Jika you minta penulis untuk insaf, aku minta kamu juga untuk insaf juga..pemikiran kerdil kok diperjuangkan…Mari lihat terpuruknya islam karena ulah kelompok wahabi
    1. bias gender (emansipasi wanita yang buruk)..lihat tuh orang arab saudi, perempuan nyetir mobil aja nggak boleh..kasihan khan.
    2. Wanita gak berpolitik .. gak jamannya bung
    3. celana cingkrang, janggut panjang (pake rompi lagi), batuk gosong, emang itu cerminan iman…atau kesombongan spiritual (pamer sholeh).eh..aku juga sholat bung tiap hari, panjaang tapi gak gosong-gosong…digosok pake apa yaa….)
    4. Yang lebih esensial lagi, tuh orang wahabi yang suka mengkafirkan(bid’ah, khurafat, tahayul, syirik, murtad, kafir) massyaAllah…emang lu yang punya surga…atau juru bicara Allah sehingga paling tahu yang benar di sisiNya.

  11. pantasan saya melihat beberapa teman2 saya yang mengaku salaf
    sepertinya mereka selalu bermasalah bila berhadapan dengan orang..

  12. toto said

    islam itu datangnya asing dan berakhirnya asing pula, kalo ane buat manhaj totoiah pembaharu berarti asing juga gak ya??huakakak

  13. zaini said

    Assalaamu’alaykum,

    Bang ane copast ye tulisannye……

    Dikantor ane udah banyak juga nih yang kayak begini modelnye…..

    Ane taro di MP ane ye….

    Jazakaloohu..Khoiron katsiro…

  14. administrator www said

    wa’alaikumsalam

    Silahkan copast. Terimakasih kembali.

    wassalam

  15. cikotrik said

    alhamdulillah…

    pemahaman ana makin kental , syukron katsir ya akhi..

    sebelum sepak terjang mereka jauh kedepan , buat jaga2 ana perlu buat pegangan ..bisa ana copy juga , kah ??

    syukron katsir sekali lagi

    salam

    Silahkan. Sama2. Terimakasih kembali.

    wass
    admin www

  16. Pipit said

    Assalamualikum Om Admin..
    Newbie kasi komentar gak papa kan?🙂
    Kenalin dulu, Sy pipit, female/25 Thn.

    Bagus banget tulisanx.. Yang pertama protes tadi tuh lucu yah? Mengoreksi penulis habis-habisan tapi tdk bisa mengoreksi diri sendiri. Dari kata-katanya sih sama sekali tdk mencerminkan seorang Muslim.. Contoh binatang2nya itu loh?? Sadis banget.. Pake Panda ke’ kucing ke’ yg lebih cute gitu.. Hehehe..🙂 Saya mo ikut-ikutan mengoreksi yah? Tapi cuma mo mengoreksi 1 kata kok.. 1 Kata yang begitu berarti buat saya, makanya saya koreksi!) Mudah-mudahan ada yang mengoreksi saya juga setelah ini.. I’m Opened My Mind..🙂

    Ok, back to topic. Saya mo mengoreksi kata “ALLAH” yang diubah menjadi “ALLOH”. Tau ngaji gak sih om? Emang dalam bahasa Arab ada huruf yg berbunyi “O” kah? Wong jelas2 tulisan arabnya itu bacanya “A” kok.. Bukan “U” Atau “I” APALAGI “O”! Anak TK juga tau kalau itu bacanya “ALLAH” bukan “ALLOH”..🙂

    Saya jadi inget temen tetangga kantor yg nulis undangan pengajian, kata “ALLAH” dia ganti jadi “ALLOH” juga.. (mungkin ciri khas W****i kali yah?) Coz waktu saya tanyain alasan dia nulis “ALLOH”, jawabannya sama sekali bukan jawaban orang yang berpendidikan! Alias Ndablek *Menurut saya..*

    Jadi jawabannya gini : “Kan kalo kamu bilang kata2 “Kassssiaaan deh Lo” bukannya bilang “Kasssiaaaan deh La”! Wakzzz!!! Jantungku rasanya mo copot.. *Ada toh orang sesempit itu pemikirannya?* Masa’ sih kata “ALLAH” diumpamakan dgn kata “Kassssiaaan deh Lo”?? Perumpamaan yang begitu bodoh bukan? Hahahaha.. Kok jadi mirip perumpamaan gigi kuda Nil dan Mulut Babi tadi yah? Hihihihihi…

    Jadi, saya bisa ambil kesimpulan, 1 lagi ciri khas dari mereka adalah.. “Sering memberikan alasan tentang sesuatu hal yang bikin geeeeliii banget alias tidak ilmiah alias bego’ banget”! Panteeees buku2 orang dibakar yah..? *Sirik Tanda Tak Mampu* :p

    Tambahan lagi, Aneh juga yah kalau ada yang menganggap dirinya Islam tapi membenci Nabi Muhammad dan keluarganya.. Padahal jelas-jelas di 2 kalimat syahadat (syarat orang menjadi Islam) menyebutkan “Nabi Muhammad adalah Rasul Allah”. Apa mereka juga belum paham arti dari 2 kalimat syahadat? Sungguh tdk punya logika yg sehat mereka! Allah aja nganggap Nabi Muhammad kekasih-Nya, Masa’ sih kita berani-beraninya benci sama kekasih Allah? Naaaah Loooh?!

    Sebenarnya Islam itu agama yang gak kaku, simple nan indah kok.. Gak usah dibikin ribet! Gak usah sok sibuk mengklaim si A kafir, si B Syirik apalagi mengorbankan nyawa orang lain yang tdk sepaham dgn kita. Toh kita juga blum tentu sempurna kan? Perbaiki dulu diri kita baru bisa perbaiki orang lain.. Lagian, di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita MASING-MASING kan..? Bukannya mempertanggungjawabkan perbuatan si A atau si B! Wong Nabi aja ngga’ pernah jahat sama orang kafir yang jelas2 menyakiti Beliau..🙂

    Mari kita menjadi Islam yang biasa aja.. Yang Damai, Yang Aman, yang ikutin perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.. (Termasuk tdk menyakiti sesama manusia).

    Semoga Allah selalu melindungi kita dari pengaruh2 syaitan yang berwujud manusia.. Amiiiinnnnn..!

    Wassalam..

    Wa’alaikumsalam wr wb

    Selamat bergabung. Terimakasih atas komentar dan masukannya.

    wassalam
    Admin www

  17. Ali murni said

    Kalau dajal turun pasti kaum wahabi yg pertama kali beriman sama dajal, karena dajal kan berkaki, bertangan dan dan bermata lagi besar. Sama dg hayalan wahabi sekarang ini. Lagi pula, tangan atau mata dajal tdk sama dg tgn atau mata manusia lainya karena buta sebelah (tidak sama dg makhluk) Itulah yg jadi alasan wahabi mengimani dajal. Itulah tauhid murni tanpa cela sedikitpun. (benar sekali, tangan dajal tidak sama dg tangan kita, mata dajal tidak sama dg mata kita atau tidak sama dg makhluk lainnya) wahabi sungguh pintar menggunakan akalnya, sehingga terjerumus nggak apa-apa. Demi membela keyakinan dari syekh Ibnu taimiah yg terkenal bagi kaum wahabi.

  18. Ali murni said

    Saudara-saudara kaum wahabi yang saya cintai. Walau berlain aqidah, karena masih beriman kpd Allah dan rasulnya.Dan masih membaca dua kalimah syahadat. Saya sbg muslim merasa terpanggil untuk menyampaikan sedikit pesan buat wahabi. Pesan saya :Tajsim (berjisim) itu bukan dari islam. Berbahaya sekali. Kesalahan agama lainnya itu adalah salah satunya karena tajsim, sehingga : 1. Agama kristen menganggap nabi Isa sbg tuhan (nabi isa berjisim). 2. Agama yahudi sedang menunggu turunnya tuhan mereka dari langit (tuhan yg ditunggu). Tuhan bertempat di langit dan turun ke bumi. (nanti memang benar-benar akan turun yaitu dajal yg dianggapnya tuhan). 3. Agama hindu membuat berbagai bentuk patung yg menyeramkan karena mereka menganggap tuhan mereka seperti itu. Nah, Kalau Kita beranggapan tuhan kita bertangan, berkaki, duduk dikursi langit dan turun kebumi (sama seperti dewa) walaupun hanya dalam hayalan kita, maka Tidak ada bedanya kita dg mereka. Untuk menghilangkan hayalan yg aneh-aneh seperti itu maka kita perlu belajar tauhid.

  19. Ali murni said

    Pesan saya lagi: jangan bersifat taklid buta, kalau sudah taklid seperti ini walau bagaimanapun nasehat, pandangan yang jelas dan berdasarkan fakta serta memakai logika yang benar. Mereka tidak akan pernah bisa memahami. Hanya berkutat membela mati-matian apa yg ada pada mereka. Tanpa bisa mengoreksi diri mereka. Dan semua yang ada diluar dari mereka adalah salah. Wahabi bukanlah agama yg asing di akhir zaman ini. Apa lagi nanti apa bila tuhan yang ditunggu sudah turun dari langit (negeri antah barantah) maka ajaran wahabi akan bersatu dg pendahulu mereka itu. Sehingga pengikutnya sangat banyak. Bukan awal datang asing akhir zaman asing, tapi awal datang wahabi itu asing akhir zaman terkenal

  20. Anti muslim arogan said

    Assalamualaikum Saudaraku
    Saya setuju dan mendukung banget munculnya blog-blog sperti ini.Salut buat Anda Bro!
    Btw, komentarnya si Abu Yusuf memang lucu banget ya?! Pantasnya namanya diganti saja jadi Abu Jahal, setujukah? Paling-paling nama aslinya Suryono atau Cecep, terus diganti Abu… biar lebih “islami”. Begitulah potret Wahabi,arabis, tidak Pe-De kalau belum memakai nama dan slogan dan atribut2 yang berbau arab. Mereka pikir kelimuan dan ketakwaan dilihat dari atribut? Saya kenal seorang Kyai sangat alim di Krapyak Jogja, dia masih Pe-De memakai nama aslinya Henry Sutopo (maaf Kyai nama Panjenengan saya bawa-bawa)dan tidak pernah berniat mengganti nama pemberian orang tuanya hanya agar terlihat lebih “islami”
    Wassalam

  21. savic said

    wahabi ni aneh, ngikutin ibnu taimiyah
    lha padahal ibnu taimiyah sendiri seorang pengagum ahlil bayt
    tapi emang jarang sih buku beliau yang berjudul fadha’il ahlil bayt dibaca masyarakat

  22. zeber said

    HARI GINIIII MASIH SETUJU SAMA KOMENTARNYA “ABU YUSUF” MENDINGAN SAMA “ABU GOSOK”

  23. Haidar said

    Ikhwan semua…. kewajiban kita hanya menyampaikan hujjah, sudahlah tidak usah emosional menanggapi orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya dengan jernih. Mari kita mencontoh Rahbar, dan terutama para Imam Ahlulbay a.s, karena disanalah samudera Ilmu. Labaika ya Husain

  24. saya melihat abu yusuf jelas buanget kegoblokannya, belajar jangan dari majalah belajar dong sama kiyai yang bener

  25. Abi seumot said

    dah tau nyatanya salah masih juga berpendirian tguh..
    bner seprti Ustad muchtar bilang kalau wahabi g’ bda yang nama_a khawarij yang tugas nya hnya mengkafirkan dan mensyirikkan org yang g’ sama dgn pendirian mereka..
    mungkin Abu yusuf skrg sdah dcuci otak sehingga g’ mau lgi mnrima ajran ahlussunah yg bner
    hai org2 wahabi atau salafi kalian mengaku pengikut salafi ttpi kalian skrang dah pakai motor, mobil, dan brang mwah lainnya. pdahal itu haram krna hal itu g’ prnah dilakukan oleh para sahabat dan para salafi yg dahulu.
    wahabi munafik ngku salafi padahal ustad cebol

  26. Hady said

    Ass Wr Wb,

    Ana cuma mau menyampaikan sedikit pada Antum semua, jangan sampai kita ngaku orang muslim tapi tidak mencintai ahlul bait rasulullah SAW, Na’udzubillah..sudah sangat jelas disampaikan oleh rasulullah SAW dan di ulang 3 kali bahwa cintailah ahlul bait beliau..siapa saja mereka? sudah jelas dari keturunan bani Hasan dan bani Hussein, adakah mereka sekarang ini khususnya di Indonesia? sudah jelas ada dan terkenal dengan sebutan Habib/Habibah, Syarif/Syarifah, Sayyid/Sayyiddah. Nah jelas kan? jangan lupa yang paling terbanyak masuk ke Asia Tenggara khususnya menjadi sulthan, Muhfti adalah keturunan dari keluarga Ba’Alawi yang hijrah dari Hadramaut Yaman, seperti kesultanan Brunai Darussalam, Kesultanan Pontianak, Samudera Pasai, Demak Bintoro, Kesultanan Pahang/Malaysia, Sultan Mindano (Philipina) dan masih banyak lagi. Ini salah satu ciri Ahlul Sunnah Waljama’ah adalah mencintai ahlul bait rasulullah SAW, dan banyak sekali hadist-hadist yang meriwayatkan tentang Nasb. Demikian saudara, ampun maaf dari kalian semua. SEmoga kita semua diberi hidayah Allah SWT, Amin Allahuma Amin…

    Wassalam..

  27. teguh said

    kami adalah kaum wahhabiy. kami salah. kalianlah wahai “ahlussunnah wal jama’ah” yang “benar”..
    (.^_^.)

  28. oca said

    Assalamu alaikum w.wb.
    Tulisannya bagus..tidak ada ruh fanatik, ringan dan ilmiah..cuma kok akhirnya pada nyerang Abu Yusuf…
    saya cuma ingin ngingetin teman-teman di sini..Kalo dasar dakwah sudah nashrul madzhab ( membela madzhab ), ya..kita akan ribut dengan saudara kita sendiri..
    Urusan beda pendapat gak bakal selesai, yang turun ke gelangang ulama sekaliber Al-Ghazali dan Taimiyyah aja gak beres; terlebih jika yang turun ke gelanggang RECEHAN seperti kita ini…
    Yang diperlukan sekarang menurut saya;
    1. Bersikap toleran terhadap perbedaan pendapat yang terjadi diantara ulama selama tidak bentur dengan ijma. Kalo masih ngotot..ya namanya bukan bela agama, tapi bela pendapat orang
    2. KIta harus sadar; jika kita baca buku, orang lain juga baca buku.. JIka kita punya guru, orang lain juga punya guru…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: